Jadi Agen Perdamaian, 40 Mahasiswa UIN Bandung Ikuti Pelatihan Moderasi Beragama Kemenag
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, kanal31.com – Upaya mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang rukun, damai, dan inklusif terus diperkuat melalui generasi muda. Sebagai langkah nyata, sebanyak 40 mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi mengikuti Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama bagi Mahasiswa Tahun 2026.
Acara strategis ini merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama (Pusbangkom MKMB) Kementerian Agama RI dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan dibuka langsung oleh Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., di Gedung Rachmat Djatnika, Lantai IV Perpustakaan, Selasa (30/06/2026).
Turut mendampingi Rektor, Direktur Rumah Moderasi Beragama (RMB) Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA; Sekretaris RMB Dr. H. Syahrul Anwar, M.Ag.; serta Kepala Bagian Tata Usaha Pusbangkom MKMB Kemenag RI, Nilam Nur Azizah, SE, M.Si.
Tampilkan Wajah Islam yang Ramah
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Rosihon menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Mahasiswa harus menjadi generasi yang mampu menghadirkan wajah Islam yang ramah, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman,” tegasnya.
Ia berharap penguatan ini tidak berhenti sebagai seremonial pelatihan saja, tetapi menjelma menjadi budaya akademik yang hidup di lingkungan kampus. UIN Bandung sendiri berkomitmen memperluas program ini agar menyasar seluruh dosen dan tenaga kependidikan.
Mahasiswa sebagai Agent of Change
Kabag TU Pusbangkom MKMB Kemenag RI, Nilam Nur Azizah menjelaskan, mahasiswa dipilih sebagai target utama karena peran mereka yang sangat strategis sebagai penggerak perubahan (agent of change) sekaligus calon pemimpin masa depan.
“Moderasi beragama berarti tidak ekstrem ke kiri dan tidak ekstrem ke kanan. Mahasiswa diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai toleransi, memperkuat persatuan, serta menangkal berbagai narasi ekstremisme, baik di dalam kampus maupun di tengah masyarakat,” ujar Nilam.
Kerja sama kelembagaan ini mencakup ruang lingkup yang komprehensif, mulai dari penyusunan materi, penyediaan narasumber, hingga monitoring dan evaluasi. Seluruh rangkaian pelatihan dirancang khusus untuk memperkuat empat pilar utama moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan sikap akomodatif terhadap kebudayaan local.
Integrasi Berkelanjutan Sejak Bangku Kuliah
Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Bandung, Prof. Usep Dedi Rostandi menuturkan, pelatihan tersebut merupakan program lanjutan yang terintegrasi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus melalui Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), mahasiswa UIN Bandung sebenarnya sudah dibekali konsep dasar moderasi beragama.
“Pelatihan kali ini adalah tahap lanjutan agar mahasiswa tidak hanya memahami moderasi beragama secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya melalui budaya dialog, berpikir kritis, dan saling menghormati,” tutur Prof. Usep.
Melalui metode yang interaktif, diskusi kelompok, dan aktivitas partisipatif, pelatihan ini diharapkan sukses mencetak pelopor-pelopor kerukunan yang siap menjaga harmoni dan kedamaian di tanah Jawa Barat.(nas)
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar