Dosen UIN Bandung Dukung Wacana Rektor Perempuan, Tapi Nilai Faktor Kultur Tak Bisa Diabaikan
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Sen, 6 Jul 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG, Kanal31.com– Wacana Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, agar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin oleh seorang rektor perempuan terus mendapat respons dari kalangan sivitas akademika. Salah satu dukungan datang dari dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Mochammad Alfan, M.A.
Kepada Kanal31.com, Alfan menyatakan sepakat dengan gagasan yang disampaikan Menteri Agama. Menurutnya, pandangan tersebut mencerminkan perspektif seorang akademisi yang mengedepankan kesetaraan gender dalam kepemimpinan perguruan tinggi.
“Saya sepakat dengan gagasan Menteri Agama. Menurut saya, itu menunjukkan beliau sebagai seorang akademisi yang tidak memaksakan pandangan berdasarkan ormas Islam tertentu, tetapi mengangkat persoalan gender dalam kepemimpinan,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Ia menilai UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki sejumlah guru besar perempuan yang memiliki kapasitas dan rekam jejak akademik untuk memimpin kampus.
“Setahu saya ada beberapa tokoh perempuan yang layak, paling tidak ada Prof. Akmaliyah, Prof. Fenty, Prof. Lilis, Prof. Nurmila, dan lainnya,” katanya.
Meski demikian, Alfan menegaskan bahwa dinamika kepemimpinan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri lainnya.
“Namun saya yakin, sebagai seorang akademisi, Menteri Agama memahami bahwa dinamika kepemimpinan di UIN Bandung secara kultur dan budaya berbeda dengan UIN di daerah lain. Karena itu, laki-laki masih menjadi figur yang paling diharapkan untuk memimpin UIN Bandung pada periode 2027–2031,” tuturnya.
Wacana mengenai rektor perempuan mencuat saat Menteri Agama menghadiri kegiatan di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 9 Juni 2026. Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa hingga saat ini telah ada sembilan perempuan yang menjabat sebagai rektor di lingkungan Kementerian Agama. Pernyataan tersebut kemudian memantik diskusi mengenai peluang UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin perempuan pada periode mendatang.
“Sudah sembilan perempuan yang menjabat rektor di lingkungan Kemenag. Coba UIN Bandung pun rektornya cantik, supaya tidak ada demonya dan cantik juga kampusnya,” ujar Menag yang disambut tepuk tangan ratusan pegawai.
Ucapan tersebut dinilai banyak pihak bukan sekadar guyonan, melainkan sinyal dukungan terhadap semakin besarnya keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri. Meski demikian, proses pemilihan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung tetap akan mengikuti ketentuan, mekanisme, dan tahapan yang ditetapkan Kementerian Agama.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar