Membaca Konstelasi Pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
- account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

SURABAYA, kanal31.com — Pemilihan rektor di perguruan tinggi bukan sekadar proses administratif untuk menentukan siapa yang akan memimpin kampus empat tahun ke depan.
Di baliknya terdapat pertarungan gagasan, rekam jejak akademik, kepemimpinan birokrasi, jaringan kelembagaan, bahkan dinamika politik yang tidak selalu tampak di permukaan. Hal itu juga terlihat pada kontestasi pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya periode 2026–2030.
Sebanyak 13 guru besar mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor. Jumlah ini menunjukkan bahwa UINSA memiliki sumber daya akademik yang melimpah. Hampir seluruh kandidat merupakan akademisi senior dengan pengalaman panjang dalam pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Persoalannya kemudian bukan lagi siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling mampu membawa UINSA memasuki fase perkembangan berikutnya.
Kompetisi yang Tidak Lagi Ditentukan oleh Gelar
Apabila seluruh kandidat telah bergelar profesor, bahkan sebagian memiliki pendidikan doktor dari luar negeri, maka gelar akademik tidak lagi menjadi pembeda utama. Variabel yang mulai menentukan bergeser pada pengalaman kepemimpinan, produktivitas ilmiah, kemampuan membangun jejaring, pengalaman mengelola organisasi besar, hingga kemampuan membaca arah perubahan pendidikan tinggi.
Pemilihan rektor di PTKIN saat ini tidak cukup hanya mengandalkan reputasi ilmiah. Universitas menghadapi tantangan internasionalisasi, akreditasi global, transformasi digital, kecerdasan buatan, efisiensi tata kelola, penurunan jumlah mahasiswa baru di beberapa program studi, hingga tekanan untuk meningkatkan posisi dalam berbagai pemeringkatan dunia.
Rektor masa depan dituntut mampu menjadi ilmuwan sekaligus manajer. Ia harus memahami bagaimana membangun budaya akademik, mengelola birokrasi, memperluas jejaring internasional, meningkatkan kualitas riset, sekaligus menjaga stabilitas organisasi.
Tiga Kelompok Kandidat
Berdasarkan penelusuran terhadap rekam jejak akademik, pengalaman kepemimpinan, publikasi, serta posisi organisasi, para kandidat dapat dipetakan ke dalam tiga kelompok besar.
Kelompok pertama: kandidat dengan pengalaman kepemimpinan universitas
Kelompok ini diwakili oleh figur yang pernah memimpin universitas secara langsung, seperti Prof. Akh. Muzakki dan Prof. Masdar Hilmy. Modal utama mereka adalah pengalaman mengelola organisasi berskala universitas, memahami hubungan dengan Kementerian Agama, serta memiliki jejaring nasional maupun internasional yang luas. Pengalaman tersebut memberikan keuntungan karena persoalan yang dihadapi seorang rektor jauh lebih kompleks dibanding memimpin sebuah fakultas.
Kelompok kedua: kandidat dengan kekuatan akademik
Kelompok ini berisi akademisi yang memiliki produktivitas publikasi tinggi, reputasi ilmiah yang kuat, dan konsistensi penelitian. Nama-nama seperti Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah, Prof. Khoirun Niam, Prof. Rubaidi, maupun Prof. Husniyatus Salamah termasuk dalam kategori ini. Mereka menawarkan masa depan UINSA sebagai universitas riset yang lebih kompetitif melalui penguatan publikasi internasional, inovasi pembelajaran, serta pengembangan budaya akademik.
Kelompok ketiga: kandidat berbasis tata kelola dan organisasi
Beberapa kandidat memiliki pengalaman yang luas dalam organisasi kemasyarakatan, kepemimpinan fakultas, maupun pengembangan tata kelola. Mereka menawarkan kemampuan membangun jaringan, memperkuat hubungan kelembagaan, dan mengelola organisasi besar. Karakter kepemimpinan seperti ini sering menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi lintas institusi.
Simulasi Berbasis Data Publik
Tulisan ini mencoba melakukan simulasi menggunakan sejumlah indikator yang lazim dipakai dalam evaluasi kepemimpinan perguruan tinggi. Indikator tersebut meliputi pengalaman kepemimpinan, produktivitas ilmiah, reputasi akademik, pengalaman birokrasi, jejaring nasional, jejaring internasional, visi strategis, serta modal organisasi.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa Prof. Akh. Muzakki berada pada posisi teratas dengan skor 9,55, diikuti sangat dekat oleh Prof. Masdar Hilmy dengan 9,40. Posisi ketiga ditempati Prof. Evi Fatimatur Rusydiyah yang memperoleh 9,15, disusul Prof. Achmad Muhibin Zuhri dengan 9,05. Kelompok berikutnya memperlihatkan persaingan yang jauh lebih rapat, yakni Prof. Abdul Chalik (8,95), Prof. Khoirun Niam (8,90), Prof. Nur Kholis (8,80), Prof. Rubaidi (8,75), dan Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati (8,70). Empat kandidat lainnya juga berada dalam rentang skor yang relatif berdekatan, yaitu Prof. Idri (8,55), Prof. Sri Warjiyati (8,45), Prof. Mohammad Kurjum (8,30), dan Prof. Zumrotul Mukaffa (8,25). Rentang skor yang hanya terpaut sekitar 1,3 poin antara peringkat pertama dan terakhir menunjukkan bahwa seluruh kandidat memiliki kapasitas akademik dan kepemimpinan yang layak diperhitungkan. Perbedaan nilai lebih banyak dipengaruhi oleh variasi pengalaman memimpin universitas, rekam jejak birokrasi, produktivitas ilmiah, jejaring organisasi, serta reputasi nasional dan internasional yang berhasil ditelusuri dari berbagai sumber publik.
Perlu ditegaskan bahwa angka-angka tersebut bukan hasil resmi proses pemilihan, melainkan simulasi berbasis informasi publik yang tersedia. Variabel yang bersifat tertutup, seperti dinamika politik internal, preferensi anggota Senat Universitas, hasil uji kelayakan, maupun pertimbangan strategis Kementerian Agama, tidak dimasukkan ke dalam model ini.
Merit Tidak Selalu Menentukan Pemenang
Pertanyaan paling menarik bukan siapa yang memiliki publikasi paling banyak.
Bukan pula siapa yang memiliki sitasi tertinggi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: indikator apa yang benar-benar digunakan untuk memilih seorang rektor?
Jika yang dinilai adalah publikasi internasional, hasilnya akan berbeda.
Jika yang dinilai adalah pengalaman birokrasi, hasilnya juga berubah.
Jika yang dinilai adalah kemampuan membangun jaringan nasional, urutannya kembali bergeser.
Jika yang lebih diprioritaskan adalah pengalaman memimpin universitas, maka kandidat petahana maupun mantan rektor memiliki keunggulan yang sulit diabaikan.
Artinya, tidak ada satu indikator tunggal yang mampu menjelaskan keseluruhan proses pemilihan rektor. Kepemimpinan perguruan tinggi merupakan kombinasi antara kapasitas akademik, kemampuan manajerial, kecakapan membangun jejaring, dan legitimasi kelembagaan.
Politik Kampus Selalu Hadir
Mengatakan bahwa pemilihan rektor sepenuhnya bebas dari politik merupakan pandangan yang terlalu sederhana. Namun mengatakan bahwa semuanya ditentukan oleh politik juga tidak tepat. Yang terjadi biasanya adalah pertemuan antara merit akademik dan dinamika kelembagaan.
Politik dalam konteks perguruan tinggi tidak selalu berarti praktik negatif. Politik juga dapat dimaknai sebagai proses membangun koalisi, memperoleh legitimasi, menyatukan berbagai kepentingan, dan membangun dukungan terhadap arah pengembangan universitas. Persoalan muncul ketika pertimbangan politik sepenuhnya menyingkirkan pertimbangan akademik atau ketika merit tidak lagi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Siapa yang Paling Dibutuhkan UINSA?
Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada arah yang ingin ditempuh universitas.
Apabila prioritas utama adalah internasionalisasi, maka figur dengan jejaring global dan pengalaman akademik internasional menjadi penting. Apabila targetnya adalah transformasi digital dan penguatan universitas riset, maka produktivitas ilmiah, kemampuan membangun ekosistem penelitian, dan pengalaman mengelola inovasi memperoleh bobot lebih besar. Apabila tantangan terbesar berada pada tata kelola organisasi, maka pengalaman birokrasi, kepemimpinan institusi, dan kemampuan melakukan reformasi manajemen menjadi faktor yang lebih menentukan.
Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar. Setiap pilihan membawa konsekuensi strategis yang berbeda terhadap arah pengembangan UINSA selama empat tahun ke depan.
Penutup
Kontestasi pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2026 merupakan salah satu yang paling menarik dalam beberapa tahun terakhir karena mempertemukan berbagai tipe kepemimpinan: mantan rektor, petahana, akademisi produktif, pakar manajemen, ahli hukum, ilmuwan pendidikan, hingga tokoh organisasi.
Apa pun hasil akhirnya, kualitas proses seleksi akan jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang terpilih. Universitas besar tidak hanya dibangun oleh figur rektor yang kuat, tetapi juga oleh sistem yang sehat, tata kelola yang akuntabel, budaya akademik yang hidup, dan keberanian mengambil keputusan strategis demi kemajuan institusi.
Analisis ini juga memperlihatkan bahwa seluruh kandidat berada pada rentang kualitas yang relatif tinggi. Perdebatan seharusnya tidak berhenti pada siapa yang paling layak menjadi rektor, tetapi berkembang menjadi diskusi yang lebih substansial mengenai arah masa depan UINSA: apakah akan menjadi universitas yang lebih berorientasi pada riset, internasionalisasi, tata kelola modern, penguatan identitas keislaman, atau mampu mengintegrasikan seluruh aspek tersebut secara seimbang.
- Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
