Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Purbaya dan Wajah Kekuasaan

Purbaya dan Wajah Kekuasaan

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, kanal31.com — Memberhentikan seorang menteri tentu merupakan kewenangan Presiden. Tidak ada yang mempersoalkan itu. Yang patut dipersoalkan adalah cara presiden memperlakukan orang yang diberhentikannya. Purbaya diberhentikan ketika sedang menjalankan tugas negara, dan pemberitahuan itu datang melalui telepon. Bahkan seorang yang melakukan kesalahan atau berstatus tersangka korupsi pun, dalam negara hukum, tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat. Apalagi seorang Menteri Keuangan yang sedang menjalankan tugas resmi negara. Kekuasaan boleh mencopot jabatan seseorang, tetapi tidak semestinya mencopot kehormatannya.

 

Cara seperti ini memperlihatkan sesuatu yang lebih serius daripada sekadar persoalan etika komunikasi. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan memandang manusia di dalam lingkarannya sendiri: ketika masih berguna, diperlakukan sebagai pejabat; ketika tidak lagi diperlukan, dapat diberhentikan seperti barang yang sudah tidak berguna. Padahal pemerintahan modern bukan hanya soal siapa yang memiliki kewenangan, tetapi juga bagaimana kewenangan itu digunakan. Ketegasan tidak identik dengan kekasaran. Kecepatan tidak mengharuskan penghinaan. Presiden boleh mengganti menteri dalam satu menit, tetapi semestinya tetap mempunyai waktu lima menit untuk menghormati manusia yang sedang ia berhentikan.

 

Di sinilah pemerintah perlu bercermin. Negara bukan milik penguasa, dan jabatan publik bukan milik pribadi yang sedang berkuasa. Kekuasaan yang sehat justru terlihat ketika ia mampu menghormati orang yang sudah tidak lagi dibutuhkannya. Memberhentikan seseorang dengan hormat adalah tanda kebesaran kekuasaan; memberhentikan dengan cara yang merendahkan justru memperlihatkan kegelisahan kekuasaan itu sendiri. Purbaya mungkin kehilangan jabatan hari itu, tetapi cara ia diberhentikan meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah pemerintahan ini sedang membangun budaya kekuasaan yang beradab, atau sekadar budaya kekuasaan yang merasa berhak melakukan apa saja karena memiliki kewenangan?

 

Kalau kepada orang yang berada di dalam kekuasaan saja negara bisa berlaku demikian, bagaimana nasib rakyat biasa yang tidak mempunyai jabatan, akses, dan kekuasaan untuk membela dirinya? Kekuasaan yang tidak mengenal etika akhirnya bukan lagi menunjukkan ketegasan. Ia hanya sedang mempertontonkan bahwa yang kuat merasa tidak perlu menghormati yang lemah.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Tempat Ngopi Asyik Saat Liburan Panjang di Bandung

    5 Tempat Ngopi Asyik Saat Liburan Panjang di Bandung

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Liburan panjang di Bandung selalu menghadirkan cerita kecil yang menyenangkan. Setelah lelah menyusuri Braga, menikmati sejuknya Dago, atau berburu suasana di Lembang, ada satu ritual sederhana yang hampir selalu dicari wisatawan: duduk tenang di tempat ngopi yang nyaman. Di kota yang akrab dengan udara dingin dan budaya nongkrong ini, secangkir kopi sering […]

  • Ternyata Rangking 1 Versi SINTA 2024 Bukan UIN Jakarta, Melainkan UIN Bandung 

    Ternyata Rangking 1 Versi SINTA 2024 Bukan UIN Jakarta, Melainkan UIN Bandung 

    • calendar_month Rabu, 1 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM — Mengawali tahun 2025 UIN Sunan Gunung Djati Bandung menempati ranking satu (top score) jurnal Science and Technology Index (SINTA) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk tahun 2024. Rektor Rosihon Anwar melalui Wakil Rektor I Dadan Rusmana menyampaikan capaian prestasi yang membanggakan ini berdasarkan data dari laman https://sinta.kemdikbud.go.id/affiliations?page=2&q=islam yang diakses pada […]

  • Guru MTsN 1 Labura Bikin Taman Mini Madrasah dari Botol Bekas

    Guru MTsN 1 Labura Bikin Taman Mini Madrasah dari Botol Bekas

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    LABURA kanal31.com — Namanya Ernita, guru sekaligus Kepala Perpustakaan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Labuhanbatu Utara. Ia menciptakan inovasi unik dan ramah lingkungan dengan membuat taman mini di depan ruangan perpustakaan MTsN 1 Labuhanbatu Utara.   Dilansir dari Kemenag, Selasa (23/9/2025), Ernita bercerita bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, seperti memanfaatkan limbah plastik […]

  • Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

    Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Syahiduz Zaman, dosen TI UIN Malang
    • 0Komentar

    MALANG, kanal31.com — Pada pertemuan pertama mata kuliah Sistem Informasi, saya mencoba melakukan hal sederhana: bertanya kepada mahasiswa tentang buku.   Saya mengajar empat kelas. Saya menunjukkan buku Principles of Information Systems, buku teks yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama bidang Sistem Informasi. Saya bertanya, “Menurut kalian, berapa harga buku ini?”   Jawabannya menarik. […]

  • Keracunan MBG Mulai Masuk Babak Baru, SPPG Dilaporkan ke Polisi

    Keracunan MBG Mulai Masuk Babak Baru, SPPG Dilaporkan ke Polisi

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR, kanal31.com — Keracunan MBG akhirnya memasuki babak baru. Selama ini, anak-anak muntah, pusing, kejang, masuk rumah sakit, lalu bangsa ini seperti disuruh menunggu episode berikutnya. Evaluasi dilakukan. Pernyataan keluar. Dapur disegel. Kepala SPPG dicopot. Setelah itu? Hening.   Tersangka belum kelihatan. Kini ceritanya berbeda. Orang tua korban mulai berani membawa perkara ke polisi. Ini bukan […]

  • Prof. Usep Dedi Rostandi: Sang Penjaga Moderasi yang “Leuleus Jeujeur Liat Tali”

    Prof. Usep Dedi Rostandi: Sang Penjaga Moderasi yang “Leuleus Jeujeur Liat Tali”

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    DALAM dunia akademik yang sering kali kompetitif, kehadiran Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA. membawa warna yang meneduhkan. Sosoknya bukan sekadar seorang Guru Besar dalam bidang Pendidikan Islam Indonesia di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melainkan personifikasi dari kearifan lokal Sunda yang bertemu dengan kedalaman ilmu agama. Dilihat jejak pengabdiannya, dari mulai ruang […]

expand_less