Jumat, 3 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Sunan Ampel di Persimpangan Budaya

Sunan Ampel di Persimpangan Budaya

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Rab, 13 Mei 2026
  • comment 0 komentar

Objektivitas Etika dan Arsitektur Literasi Islam di Nusantara 

Kanal31.com — Menapaki tinggalan sejarah cukup memberikan nuansa dan makna tersendiri bagi penelusurnya. Tentunya, Sejarah bukan sekadar deretan angka mati atau kronologi linear yang harus dihapal untuk ujian, melainkan sebuah struktur yang bernapas dalam bentangan “longue durée” (bentangan durasi panjang).

 

Jika kita memandang Jawa melalui lensa Denys Lombard dalam “Nusa Jawa: Silang Budaya” sebagai sebuah “Persimpangan Budaya,” maka kehadiran Raden Rahmat atau Sunan Ampel pada tahun 1443 adalah titik kulminasi di mana arus kosmopolitanisme Islam dari Champa bertemu dengan rapuhnya struktur sosio-agraria di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit.

 

Ia lahir di Champa pada tahun 1401. Figur ini muncul dalam panggung naratif Nusantara bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai sebuah “fokalisasi” baru—meminjam istilah Gerard Genette—yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap ketuhanan dan kemanusiaan. Raden Rahmat membawa muatan intelektual dari ayahnya, Syekh Ibrahim Asmoroqondi (w. 1424), serta warisan spiritual dari Mawlana Malik Ibrahim (w. 1419), yang kemudian ia olah menjadi sebuah strategi kebudayaan yang melampaui zamannya.

 

Dalam perspektif Kuntowijoyo, apa yang dilakukan Sunan Ampel di kota-kota timur pulau Jawa merupakan sebuah proses “objektifikasi” nilai-nilai Islam ke dalam kategori sosial yang profetik. Beliau tidak terjebak dalam jargon teologis yang mengawang, melainkan merumuskan “Moh Limo”, yakni Moh Main, Moh Ngombe, Moh Malit, Moh Madat, Moh Madon. Kelimanya merupakan sebuah instrumen humanisasi untuk menyembuhkan patologi sosial masyarakat Majapahit yang saat itu sedang mengalami entropi moral di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya V (1447-1518).

 

Di sini, agama tidak lagi sekadar ritual eskapis (pelarian), melainkan menjadi “Ilmu Sosial Profetik” yang menawarkan tatanan etika publik yang konkret. Kita akan melihat ini sebagai manifestasi kesalehan yang “sumeleh” dan “guyub”; Sunan Ampel tidak tampil sebagai aristokrat yang kaku, melainkan sebagai kiai yang merakyat, yang mampu berbicara tentang keadilan pasar sembari duduk melingkar bersama para petani di bantaran sungai Brantas.

 

Secara naratologis, pembangunan Pesantren Ampeldenta oleh Sunan Ampel merupakan sebuah “analepsis” yang jenius, yakni sebuah langkah mengambil kembali memori kolektif asrama pendidikan Hindu-Budha (dukuh) dan mengisinya dengan substansi Islam. Pengambilan nama lembaga pendidikan dari tradisi lokal, yakni Pesantren, demikian juga dengan sistemnya, merupakan strategi kebudayaan adaptif dan familiar. Pada perjalanannya, pesantren ini menjadi pusat gravitasi intelektual yang melahirkan kader-kader penyangga struktur kekuasaan dan spiritual di Nusantara.

 

Dari rahim Ampeldenta, muncul tokoh-tokoh seperti Sunan Giri (Raden Paku; 1442-1506) yang kelak menjadi otoritas hukum bagi kesultanan kesultanan Islam, serta Raden Patah (1455–1518) yang menjadi peletak dasar kedaulatan politik Islam di Demak Bintoro. Pengaruh ini tidak berhenti di Tatar Jawa, melainkan merembes secara organik menuju Tatar Pasundan melalui jejaring Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah, 1448-1568). Melalui koneksi inilah, tradisi intelektual Ampeldenta yang menekankan harmoni antara syariat dan kearifan lokal bertransformasi menjadi fondasi bagi pesantren-pesantren awal di wilayah Cirebon hingga Banten.

 

Kontribusi Sunan Ampel terhadap peningkatan literasi Islam di Nusantara juga merupakan revolusi budaya yang sering kali terabaikan dalam catatan sejarah konvensional. Beliau adalah arsitek di balik meluasnya penggunaan “Aksara Pegon”, sebuah inovasi literasi di mana bahasa Jawa dan Sunda diwadahi dalam aksara Arab. Ini adalah bentuk “pembebasan” literasi yang memungkinkan masyarakat bawah mengakses teks-teks keagamaan tanpa harus kehilangan identitas linguistik mereka.

 

Hingga wafatnya pada tahun 1481, Sunan Ampel telah berhasil mengubah “persimpangan” yang riuh itu menjadi sebuah tatanan masyarakat teks yang beradab. Beliau tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, tetapi sebuah narasi besar tentang bagaimana Islam dapat berakar dalam nadi kebudayaan lokal tanpa harus mencabut pohon tradisi yang sudah ada, menciptakan sebuah simfoni sejarah yang tetap relevan hingga hari ini.

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamat! Jurnal Pendidikan Islam UIN Bandung Terindeks Scopus

    Selamat! Jurnal Pendidikan Islam UIN Bandung Terindeks Scopus

    • calendar_month Jum, 29 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG  Satu lagi publikasi ilmiah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menunjukkan peningkatan prestasi di tingkat dunia. Jurnal Pendidikan Islam yang diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, kini tercatat sebagai jurnal internasional bereputasi dan terakreditasi pada Sinta-1, per 27 Juli 2022. Seminggu sebelumnya, tepatnya 20 Juli 2022, Jurnal Ulumuna yang […]

  • Penyelenggaraan Haji Butuh Keselarasan Regulasi Antarnegara

    Penyelenggaraan Haji Butuh Keselarasan Regulasi Antarnegara

    • calendar_month Sel, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief, menekankan pentingnya keselarasan kebijakan lintas negara dalam penyelenggaraan haji. Hal ini disampaikannya dalam paparan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1446 H/2025 M yang digelar di Tangerang, Selasa (29/7/2025). “Isu penting yang ingin saya soroti adalah inter-state regulation, bahwa […]

  • Top! Depok Luncurkan Program Wirausaha Baru untuk 2.100 Warga

    Top! Depok Luncurkan Program Wirausaha Baru untuk 2.100 Warga

    • calendar_month Kam, 18 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Pemerintah Kota Depok memfasilitasi 2.100 warganya untuk membangun bisnis melalui program Wirausaha Baru dan Perempuan Pengusaha. Program ini diluncurkan pada Senin 15 Agustus 2022. Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono mengatakan, ribuan warga yang mengikuti program tersebut difasilitasi menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2022 untuk dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbisnis. […]

  • Dosen UIN Bandung Soroti Kasus Sosial yang Viral di Jabar, Pemprov Harus Lakukan Evaluasi

    Dosen UIN Bandung Soroti Kasus Sosial yang Viral di Jabar, Pemprov Harus Lakukan Evaluasi

    • calendar_month Kam, 11 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Bandung (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Iu Rusliana menyoroti sejumlah kasus sosial yang viral bermunculan di Jawa Barat (Jabar). Ia mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) Jabar untuk melakukan evaluasi dan perbaikan agar tidak bermunculan kasus serupa.   Beberapa di antaranya kasus yang viral seperti kasus bayi Raya yang […]

  • Bom Waktu Amarah: Ketika Akal Sehat Terhimpit “Kegilaan” Elit

    Bom Waktu Amarah: Ketika Akal Sehat Terhimpit “Kegilaan” Elit

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Mayoritas kita yang masih mencoba waras saat ini mungkin sepakat: bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Dari carut-marut penegakan hukum hingga gaya hidup mewah (hedonisme) para elit yang dipamerkan tanpa rasa malu di tengah bencana yang melanda pelosok negeri. Rasanya, harapan sedang berada di titik nadir. Kita seperti sedang mengantre, hanya tinggal menunggu […]

  • Selamat! 8.744 Sanggahan Diterima, 327.958 Lolos Seleksi Administrasi Pasca Sanggah CPNS Kemenag

    Selamat! 8.744 Sanggahan Diterima, 327.958 Lolos Seleksi Administrasi Pasca Sanggah CPNS Kemenag

    • calendar_month Ming, 29 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Kementerian Agama hari ini mengumumkan hasil pasca sanggah pada Seleksi Administrasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agama 2024 setelah masa sanggah dinyatakan selesai. Total ada 8.744 pelamar yang diterima sanggahnya dan berubah stasus kelulusannya dari tidak memenuhi syarat menjadi memenuhi syarat. Hasil seleksi administrasi CPNS Kementeiran Agama diumumkan pada 17 September 2024. […]

expand_less