Sunan Ampel di Persimpangan Budaya
- account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Objektivitas Etika dan Arsitektur Literasi Islam di Nusantara
Kanal31.com — Menapaki tinggalan sejarah cukup memberikan nuansa dan makna tersendiri bagi penelusurnya. Tentunya, Sejarah bukan sekadar deretan angka mati atau kronologi linear yang harus dihapal untuk ujian, melainkan sebuah struktur yang bernapas dalam bentangan “longue durée” (bentangan durasi panjang).
Jika kita memandang Jawa melalui lensa Denys Lombard dalam “Nusa Jawa: Silang Budaya” sebagai sebuah “Persimpangan Budaya,” maka kehadiran Raden Rahmat atau Sunan Ampel pada tahun 1443 adalah titik kulminasi di mana arus kosmopolitanisme Islam dari Champa bertemu dengan rapuhnya struktur sosio-agraria di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit.
Ia lahir di Champa pada tahun 1401. Figur ini muncul dalam panggung naratif Nusantara bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai sebuah “fokalisasi” baru—meminjam istilah Gerard Genette—yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap ketuhanan dan kemanusiaan. Raden Rahmat membawa muatan intelektual dari ayahnya, Syekh Ibrahim Asmoroqondi (w. 1424), serta warisan spiritual dari Mawlana Malik Ibrahim (w. 1419), yang kemudian ia olah menjadi sebuah strategi kebudayaan yang melampaui zamannya.
Dalam perspektif Kuntowijoyo, apa yang dilakukan Sunan Ampel di kota-kota timur pulau Jawa merupakan sebuah proses “objektifikasi” nilai-nilai Islam ke dalam kategori sosial yang profetik. Beliau tidak terjebak dalam jargon teologis yang mengawang, melainkan merumuskan “Moh Limo”, yakni Moh Main, Moh Ngombe, Moh Malit, Moh Madat, Moh Madon. Kelimanya merupakan sebuah instrumen humanisasi untuk menyembuhkan patologi sosial masyarakat Majapahit yang saat itu sedang mengalami entropi moral di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya V (1447-1518).
Di sini, agama tidak lagi sekadar ritual eskapis (pelarian), melainkan menjadi “Ilmu Sosial Profetik” yang menawarkan tatanan etika publik yang konkret. Kita akan melihat ini sebagai manifestasi kesalehan yang “sumeleh” dan “guyub”; Sunan Ampel tidak tampil sebagai aristokrat yang kaku, melainkan sebagai kiai yang merakyat, yang mampu berbicara tentang keadilan pasar sembari duduk melingkar bersama para petani di bantaran sungai Brantas.
Secara naratologis, pembangunan Pesantren Ampeldenta oleh Sunan Ampel merupakan sebuah “analepsis” yang jenius, yakni sebuah langkah mengambil kembali memori kolektif asrama pendidikan Hindu-Budha (dukuh) dan mengisinya dengan substansi Islam. Pengambilan nama lembaga pendidikan dari tradisi lokal, yakni Pesantren, demikian juga dengan sistemnya, merupakan strategi kebudayaan adaptif dan familiar. Pada perjalanannya, pesantren ini menjadi pusat gravitasi intelektual yang melahirkan kader-kader penyangga struktur kekuasaan dan spiritual di Nusantara.
Dari rahim Ampeldenta, muncul tokoh-tokoh seperti Sunan Giri (Raden Paku; 1442-1506) yang kelak menjadi otoritas hukum bagi kesultanan kesultanan Islam, serta Raden Patah (1455–1518) yang menjadi peletak dasar kedaulatan politik Islam di Demak Bintoro. Pengaruh ini tidak berhenti di Tatar Jawa, melainkan merembes secara organik menuju Tatar Pasundan melalui jejaring Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah, 1448-1568). Melalui koneksi inilah, tradisi intelektual Ampeldenta yang menekankan harmoni antara syariat dan kearifan lokal bertransformasi menjadi fondasi bagi pesantren-pesantren awal di wilayah Cirebon hingga Banten.
Kontribusi Sunan Ampel terhadap peningkatan literasi Islam di Nusantara juga merupakan revolusi budaya yang sering kali terabaikan dalam catatan sejarah konvensional. Beliau adalah arsitek di balik meluasnya penggunaan “Aksara Pegon”, sebuah inovasi literasi di mana bahasa Jawa dan Sunda diwadahi dalam aksara Arab. Ini adalah bentuk “pembebasan” literasi yang memungkinkan masyarakat bawah mengakses teks-teks keagamaan tanpa harus kehilangan identitas linguistik mereka.
Hingga wafatnya pada tahun 1481, Sunan Ampel telah berhasil mengubah “persimpangan” yang riuh itu menjadi sebuah tatanan masyarakat teks yang beradab. Beliau tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, tetapi sebuah narasi besar tentang bagaimana Islam dapat berakar dalam nadi kebudayaan lokal tanpa harus mencabut pohon tradisi yang sudah ada, menciptakan sebuah simfoni sejarah yang tetap relevan hingga hari ini.
- Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar