Transendensi Ilmu, Tulisan, dan Buku
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar

BANDUNG, kanal31.com — Bagi para penulis, guru, dosen, akademisi, pemikir, dan intelektual…
Di usia 40-an, umumnya kita bangga pada berapa banyak tulisan dan buku yang telah ditulis dan diterbitkan. Yang dikejar adalah nama dan jumlah karya.
Memasuki usia 50-an, orientasi mulai bergeser. Bukan lagi berapa banyak buku yang terbit, melainkan berapa banyak yang benar-benar dibaca, dipahami, dan memberi pengaruh pengetahuan bagi orang lain.
Di usia 60-an, pertanyaannya berubah lagi. Berapa banyak tulisan yang bukan hanya dibaca, tetapi juga berkesan, menyentuh hati, dan meninggalkan jejak dalam kehidupan pembacanya?
Dan, memasuki usia 65 tahun ke atas, kesadaran kembali naik. Di antara semua tulisan, buku, dan gagasan yang pernah kita hasilkan, mana yang benar-benar menjadi amal jariyah, bekal yang terus mengalir hingga ke akhirat? Yang paling mendasar, ini berkaitan dengan niat menulis.
Sebab tidak semua tulisan memiliki daya hidup yang sama.
Ada tulisan yang pengaruhnya berhenti di dunia. Ia menambah pengetahuan, memperluas wawasan, bahkan mungkin mencerdaskan.
Tetapi ada pula tulisan yang pengaruhnya menembus batas dunia. Ia menyadarkan, menggerakkan hati, mengubah cara pandang, memperbaiki akhlak, dan mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.
Yang pertama memperkaya pikiran.
Yang kedua menerangi jiwa.
Secara transendental, pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah berapa banyak karya yang kita tinggalkan, melainkan berapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena pernah bersentuhan dengan karya-karya itu.*** Wallāhu a’lam
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar