Breaking News:
Beranda » BEWARA » Dinamika Politik Digital di Asia Tenggara: Seminar Internasional UIN Bandung Bahas Demokratisasi dan Manipulasi Algoritmis

Dinamika Politik Digital di Asia Tenggara: Seminar Internasional UIN Bandung Bahas Demokratisasi dan Manipulasi Algoritmis

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 14 Feb 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG KANAL31.COM -– Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Social Media and Politics in Southeast Asia” di Aula FISIP UIN SGD, Lt. 1, Kamis, (13/2/2025) pukul 08.30 – 12.00 WIB.

Diselenggarakan oleh Centre for Asian Social Science Research (CASR), seminar ini menghadirkan dua akademisi terkemuka sebagai pembicara utama, yaitu Ahmad Ali Nurdin, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN SGD serta profesor dalam bidang politik Islam, dan Merlyna Lim, penulis buku Social Media and Politics in Southeast Asia (Cambridge University Press, 2024) sekaligus pakar media dan politik di Asia Tenggara.

Seminar ini dimoderatori oleh Asep Iqbal, akademisi sosiologi yang memiliki kepakaran dalam kajian media dan politik sekaligus Direktur CASSR.

Dalam paparannya Ahmad Ali Nurdin melakukan tinjauan kritis terhadap buku Merlyna Lim, dengan menyoroti bagaimana media sosial telah menjadi elemen kunci dalam lanskap politik Asia Tenggara. Ia mengakui bahwa buku ini memberikan analisis kuat mengenai peran media sosial dalam membentuk opini publik, menggerakkan aktivisme politik, serta memperkuat atau menantang otoritarianisme. Namun, ia juga menambahkan perspektifnya bahwa “pengaruh media sosial bersifat paradoksal—di satu sisi, teknologi digital telah memberdayakan masyarakat sipil dalam melawan rezim otoriter, tetapi di sisi lain juga menjadi alat efektif bagi elit politik untuk mengontrol wacana publik dan mengkonsolidasikan kekuasaan,” tegasnya.

Nurdin menggarisbawahi bagaimana kapitalisme platform telah menciptakan model komunikasi politik yang lebih berorientasi pada ekonomi perhatian daripada keterlibatan demokratis yang substansial. Dengan algoritma yang lebih mendukung konten provokatif dan emosional, media sosial di Asia Tenggara lebih mencerminkan budaya pemasaran algoritmik (algorithmic marketing culture) ketimbang ruang deliberatif yang sehat.

Ia menyoroti bagaimana disinformasi dan propaganda digital semakin terorganisir, baik oleh pemerintah maupun aktor non-negara, yang semakin memperdalam polarisasi politik dan mempersempit ruang kebebasan berekspresi. “Oleh karena itu, saya mengajak akademisi dan pembuat kebijakan untuk melihat media sosial bukan hanya sebagai alat komunikasi politik, tetapi juga sebagai medan pertempuran ideologi dan kepentingan ekonomi yang harus dikritisi lebih mendalam,” pesannya.

Dalam sesi berikutnya, Merlyna Lim membahas bagaimana media sosial telah menjadi arena utama dalam politik Asia Tenggara. Dengan meningkatnya jumlah pengguna internet, platform digital menjadi alat penting dalam membentuk opini publik, kampanye politik, dan gerakan sosial. Namun, pengaruhnya tidak selalu positif karena juga dapat memperdalam polarisasi dan menyebarkan disinformasi. “Konsep disinformation order dan post-truth politics menjadi tantangan besar dalam menjaga demokrasi di kawasan ini. Algoritma media sosial sering kali memperkuat informasi yang mendukung bias pengguna, menciptakan “filter bubbles” dan “echo chambers” yang mengisolasi pengguna dalam perspektif mereka sendiri,” jelasnya.

Lim menyoroti bagaimana algoritma berperan penting dalam menentukan visibilitas dan jangkauan informasi politik. Konsep algorithmic enclaves menunjukkan bahwa individu berinteraksi dalam ruang digital yang memperkuat keyakinan mereka dan membentuk komunitas berdasarkan identitas bersama. “Fenomena ini sering dimanfaatkan oleh aktor politik untuk mendominasi ruang publik dan memanipulasi opini. Saya menggarisbawahi bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi politik tetapi juga bagian dari kapitalisme platform, di mana ekonomi perhatian (attention economy) lebih diutamakan dibandingkan diskusi demokratis yang substansial,” bebernya.

Meskipun media sosial telah menjadi alat bagi aktivis dalam memperjuangkan hak-hak sipil, ia juga digunakan oleh rezim otoriter untuk membatasi kebebasan berekspresi. Gerakan seperti #MilkTeaAlliance dan #Bersih menunjukkan bagaimana aktivisme digital dapat melawan kekuasaan yang represif, tetapi di sisi lain, kampanye politik juga dapat memperkuat narasi otoriter dengan memanfaatkan platform digital. Konsep algorithmic white branding yang diperkenalkan oleh Lim menunjukkan bagaimana AI dan algoritma digunakan untuk menciptakan citra positif bagi tokoh politik dengan rekam jejak kontroversial. “Studi kasus seperti Bongbong Marcos di Filipina dan Prabowo Subianto di Indonesia menunjukkan bagaimana teknologi digunakan untuk “membersihkan” sejarah politik kandidat dan menarik pemilih muda,” tuturnya.

Selain dampak politik, media sosial juga sangat emosional. Konsep affective binary framework menggambarkan bagaimana narasi politik sering kali dikotomis—”kita vs mereka”—untuk membangkitkan kemarahan dan solidaritas dalam kelompok tertentu. Fenomena ini sering dimanfaatkan dalam politik populis dan kampanye berbasis identitas. “Oleh karena itu, pengguna media sosial harus memainkan peran sebagai agen intelektual digital yang mampu menavigasi informasi dengan sikap kritis. Hal ini menuntut posisi yang seimbang—tidak terjebak dalam bias algoritmik, tetapi juga tidak sepenuhnya menolak teknologi,” paparnya.

Baik Lim maupun Nurdin sepakat bahwa peran media sosial dalam politik di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari tantangan akuntabilitas dan transparansi. Pemerintah dan masyarakat harus menyadari bagaimana algoritma bekerja serta bagaimana pengaruhnya terhadap opini publik.

Asep Iqbal menegaskan kesadaran kolektif (communal consciousness) perlu diperkuat untuk melawan dominasi kapitalisme pemasaran digital sehingga masyarakat tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma yang hanya mengutamakan keuntungan platform daripada nilai-nilai demokrasi.

“Peningkatan literasi politik dan teknologi menjadi prioritas agar masyarakat dapat lebih cerdas dalam menyaring informasi dan memahami bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang demokratis yang lebih sehat,” ujarnya.

Seminar ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai interaksi antara media sosial dan politik di Asia Tenggara, serta tantangan yang perlu dihadapi dalam menjaga kebebasan berekspresi dan demokrasi di era digital. “Dengan kesadaran kritis terhadap algoritma dan strategi politik digital, masyarakat dapat menciptakan lingkungan media sosial yang lebih inklusif, tidak mudah dimanipulasi, serta tetap menjadi ruang yang mendukung demokrasi dan kebebasan berpendapat,” pungkasnya.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Asyiknya Toleransi dan Doa Lintas Agama

    Asyiknya Toleransi dan Doa Lintas Agama

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA Kanal31.com — Minggu pagi (4/1/2026) di Kulon Progo, lazimnya diisi hiruk-pikuk aktivitas warga. Namun, ada pemandangan berbeda hari ini. Ratusan ASN dan warga berkumpul untuk ikut “Jalan Sehat Kerukunan & Senam Ceria” dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama. Jelang dimulai, suasana mendadak berubah syahdu. Ratusan pasang mata tertunduk, dan kebisingan berganti […]

  • PVMBG: Waspadai Pergerakan Tanah di 19 Daerah

    PVMBG: Waspadai Pergerakan Tanah di 19 Daerah

    • calendar_month Rabu, 5 Feb 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com –  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan peta wilayah potensi gerakan tanah di Jawa Barat bulan Februari 2025. Dilansir dari jabatprov.go.id, PVMBG membagi dua kategori wilayah yang berpotensi terjadinya bencana pergerakan tanah, yaitu Zona Tinggi untuk daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi […]

  • Pentingnya Komunikasi dan Konseling Berbasis AI bagi Penghulu

    Pentingnya Komunikasi dan Konseling Berbasis AI bagi Penghulu

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA KANAL31.COM — Sebanyak 80 penghulu dari berbagai daerah mengikuti Pelatihan Komunikasi dan Konseling Berbasis AI TalentDNA. Pelatihan ini berlangsung pada 13–14 Januari 2025 di Menara 165, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi penghulu dalam komunikasi publik, konseling rumah tangga, serta pemahaman psikologis berbasis teknologi AI TalentDNA untuk menekan angka perceraian dan menciptakan keluarga yang […]

  • Gunakan Dana CSR, Gedung Mako Polsek Arjasari Dibangun

    Gunakan Dana CSR, Gedung Mako Polsek Arjasari Dibangun

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    KAB. BANDUNG KANAl31.COM – Polresta Bandung melaksanakan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Mako Polsek Arjasari di Perumahan Kota Baru Arjasari RT 04/RW 13 Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, Senin (13/1/2025). Peletakan batu pertama itu dihadiri langsung oleh Kapolda Jabar Irjen Pol Dr Akhmad Wiyagus, didampingi Bupati Bandung Dr HM Dadang Supriatna, Kapolresta Bandung Kombes Pol Dr […]

  • Kabinet Konoha

    Kabinet Konoha

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Presiden mengganti menteri seperti mengganti bidak catur yang dianggap salah langkah. Satu dicopot, satu dipanggil; yang kemarin dipuji, hari ini disingkirkan. Bahkan Purbaya—yang sebelumnya digemakan seolah jawaban atas krisis fiskal—ikut terseret dalam arus pergantian. Begitulah pemerintahan ini bekerja: bukan dengan peta yang jelas, melainkan tambal sulam; bukan dengan kompas yang mantap, melainkan firasat. […]

  • Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    • calendar_month Kamis, 18 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Museum Sejarah Islam di kawasan Transera Waterpark Bekasi Jawa Barat, menghadirkan sejumlah koleksi replika peninggalan Nabi dan para sahabatnya. Bagi Anda yang gemar berwisata religi sambil belajar seputar sejarah Islam, kini bisa menyaksikan jejak peninggalan Rasulullah melalui koleksi yang ada di Museum Sejarah Islam tersebut. Salah satunya, seperti replika sandal Nabi Muhammad SAW yang […]

expand_less