Di Balik Layar UIN Bandung: Harmoni Empat Warek Wujudkan Kampus “UKIR”
- account_circle Sungkawa Abdisunda
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, kanal31.com— Unggul-Kompetitif-Inovatif-Rahmatan lil alamin (UKIR) adalah satu istilah untuk mewakili idealisme UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Istilah –yang akhirnya menjadi visi— ini bisa dimaknai sebagai tagline yang menjadi nafas dari seluruh proses pendidikan di kampus hijau yang kini dipimpin oleh Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag.
Inilah yang menyemangati para pimpinan UIN Bandung dalam menyenggarakan pendidikan. Mereka sangat greget, bersemangat, peduli, dan memiliki daya juang serta sanggup bekerja keras mengembangkan mutu akademik dan non-akademik, hingga bisa pentas di fora nasional dan internasional.
Keempat Wakil Rektor memberikan makna tersendiri bagi sivitas akademika. Banyak upaya yang dilakukan dalam membentuk rupa kampus seperti yang bisa dilihat saat ini. Hal inilah yang dapat mendorong para dosen, karyawan, dan mahasiswa untuk memiliki rasa cinta, citra, serta bangga terhadap almamaternya.
Momen Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Selasa (25/08/2026), yang dihadiri 7.503 mahasiswa baru, menjadi pembuktian semangat tersebut. Dalam sebuah talkshow -yang dipandu Wadek 3 Fakultas Ushuluddin Dr. R. Yuli Ahmad Hambali, M.Hum– keempat Wakil Rektor memaparkan tiga fondasi gerak UIN Bandung: Ada (ikhtiar kerja), Cita (gagasan dan ide), serta Asa (harapan melahirkan keunggulan).
Membentuk Karakter Berdaya Saing Global
Dalam mengembangkan Akademik, Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag menekankan penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa dibentuk agar berpengetahuan luas, terampil, dan mapan secara keahlian.
Menurut Prof. Dadan, salah satu yang menjadi keunggulan dari pendidikan UIN Bandung ini adalah pembentukan karakter baik, karakter positif. Keunggulan diawali dari kekuatan internal melalui akhlak karimah. Lalu proses kuliah dirancang agar mahasiswa menjalani masa studi dengan gembira, disiplin, dan terampil mengelola waktu.
Sedangkan kompetitif dan inovatif ini harus terus didorong. Potensi-potensi yang sudah ada, itu harus dikenal masyarakat luas. Kesempatan-kesempatan di luar itu harus bisa dibaca sebaik mungkin dan harus dibangun.
“Karakter kompetitif dan inovatif dipupuk agar lulusan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, negara, hingga dunia. Sedangkan Rahmatan lil Alamin mengandung makna perkuliahan kita bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Pilarnya unggul, kompetitif, dan inovatif,” jelasnya.

Manajemen Transparan dan Pelayanan Prima
Wakil Rektor II Prof. Dr. H. Tedi Priatna tak henti melakukan adaptasi, evaluasi, dan menggali berbagai problematika kampus. Ia terus menata adminitrasi dan pembinaan sumber daya manusia, agar pelayanan kepada mahasiswa dan dosen cepat dan tepat. Juga memaksimalkan sarana prasarana, menata manajemen, mengefisiensikan pendanaan, dan mengembangkan sistem informasi.
“Kami terus meningkatkan kualitas, dengan modernisasi manajemen pendidikan dan pelayanan administrasi yang prima, melakukan penataan, dan meningkatkan profesionalisasi institusi yang efektif dan efisien,” urai Prof. Tedi.
Universitas, lanjut Prof. Tedi, menjamin hak-hak mahasiswa setelah membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk memanfaatkan fasilitas di tiga kampus tanpa ada pungutan liar tambahan. Mahasiswa baru juga diberi ruang melakukan banding UKT pada semester 2 jika merasa keberatan.
“Silakan yang merasa keberatan bayar UKT, kemahalan atau terlalu kekecilan, di semester 2 bisa melakukan banding,” ujarnya.
Pemberdayaan Mahasiswa dan Kultur Kondusif
Melalui pendekatan Holistik, Wakil Rektor III Prof. Dr. Husnul Qodim menerapkan strategi pencerahan, pemberdayaan, dan pengembangan untuk menciptakan atmosfer akademik yang kondusif.
Selain itu, pembinaan berkesinambungan dilakukan kepada organisasi kemahasiswaan (DEMA, SEMA, HMJ) agar roda kegiatan selaras dengan arah kebijakan kampus.
Berkolaborasi dengan Wakil Rektor IV, ia juga ikut mengembangkan jaringan melalui pola kemitraan dan kerjasama dengan berbagai instansi. Ini penting, terutama untuk menambah wawasan mahasiswa, kelancaran praktikum dan magang, juga prospek kerja bagi alumni.
Menjangkau Dunia melalui Kemitraan Strategis
Tak kalah pentingnya, Wakil Rektor IV Prof. Dr. H. Ah. Fathonih bekerja keras membangun kemitraan dengan lembaga dalam dan luar negeri. Upaya ini dilakukan untuk membuka akses beasiswa, tempat praktikum, hingga peluang kerja bagi alumni.
Ia juga berusaha menciptakan destinasi Pendidikan global, sehingga UIN Bandung semakin diminati mahasiswa asing. Saat ini, tercatat mahasiswa dari 15 negara menimba ilmu di UIN Bandung, termasuk 37 mahasiswa baru internasional yang siap menjadikan kampus ini sebagai rumah intelektual, spiritual, dan peradaban.
“Tugas kami sebagai sales promotion. Bagaimana mempromosikan UIN Bandung ke pihak luar? Tugas utama kami ada dua: Pertama, membangun kemitraan dan kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar. Kedua, bagaimana kampus ini menjadi destinasi bagi mahasiswa luar negeri?” jelasnya.(nas)
- Penulis: Sungkawa Abdisunda
