Minggu, 19 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Jari dan Kebenaran

Jari dan Kebenaran

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Ini zaman “post truth”, begitu para pemikir menyebutnya. Sebuah zaman ketika emosi lebih dipercaya ketimbang fakta. Kebenaran objektif dikesampingkan, ukuran benar dan salah disepelekan. Dalam lanskap ini, budaya “berbagi” (share) menemukan lahannya yang paling subur.

Hanya dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa tersebar luas, bukan karena ia benar, tapi karena ia menyentuh emosi. Karena ia menguatkan keberpihakan. Karena ia meneguhkan bisikan keyakinan kita.

Konon, di masa lalu, berbicara di hadapan publik adalah privilese yang terbatas. Setiap kata dan kalimat yang keluar ditimbang dengan perhitungan yang matang. Narasi dibangun dengan penuh kehati-hatian.

Tapi hari ini, semua orang adalah penyiar, dan jari adalah mikrofon. Tombol “share” telah menggantikan proses berpikir yang seharusnya mendahului komunikasi. “Kebenaran dan politik jarang berjalan seiring, tetapi di zaman sekarang, kebohongan bahkan lebih cepat berlari,” begitu kata Hannah Arendt.

Kita sering membagikan sesuatu bukan karena kita telah memeriksa kebenarannya, melainkan karena ia selaras dengan perasaan kita. Ketika kita marah, terharu, atau takut, segera saja kita ingin orang lain juga merasakan ikhwal serupa. Dalam ekosistem media sosial, emosi adalah bahan bakar utama. Semakin emosional sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk menjadi viral. Kebenaran menjadi subordinat.

Barangkali, di sinilah bahayanya: ketika berbagi dilakukan bukan karena keyakinan akan kebenaran, tetapi karena kenyamanan psikologis. Kita membangun “ruang gema” (echo chamber) di mana satu-satunya suara yang kita dengar adalah suara yang memantul dari diri sendiri.

Kita memilih hanya apa yang ingin kita dengar. Kita membagikan hanya apa yang mendukung keyakinan kita. Maka, lahirlah masyarakat yang terfragmentasi, bukan karena kekurangan informasi, tapi karena kelebihan disinformasi yang tidak disaring.

Berbagi informasi tanpa berpikir adalah bentuk lain dari kelalaian bahkan kebodohan. Dalam post-truth society, kelalaian semacam ini bukan hanya persoalan etis, tapi juga politis. Sebuah berita palsu yang dibagikan ribuan kali bisa membentuk opini publik, bahkan kebijakan. Kita menjadi bagian dari pusaran, dan tanpa sadar ikut menyumbang bahan bakar bagi kebohongan yang dibungkus sebagai “narasi alternatif”.

Lalu bagaimana seharusnya kita hidup di zaman ini? Barangkali jawabannya sederhana, sekalipun tidak mudah: jeda. Menunda satu detik sebelum membagikan sesuatu. Lalu bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah ini akan membangun atau malah menyulut kerusuhan?

Di zaman ketika semua orang ingin didengar, sepertinya kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk mendengarkan, terutama mendengarkan suara hati sebelum jari menekan tombol share. Karena mungkin, satu-satunya cara “melawan” era post-truth bukanlah dengan lebih banyak bicara, tapi menolak tergesa, dan berusaha menemukan kembali ruang refleksi di antara notifikasi untuk kemudian khusu’ dalam berpikir dan menimbang ulang. Allahu a’lam.

 

Radea Juli A Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Pemikir Politik Islam Era Klasik

    3 Pemikir Politik Islam Era Klasik

    • calendar_month Rab, 28 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Ajaran Islam tidak hanya meliputi ibadah ritual, tetapi juga tatanan sosial masyarakat. Sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan atas umat Islam diselenggarakan dalam berbagai format. Sejumlah pemikir menguraikan kriteria kepemimpinan yang ideal menurut agama ini. Pada masa klasik, yakni sejak abad kedelapan hingga ke-15, para penulis yang menggeluti tema politik cukup banyak. Di antaranya […]

  • Terobosan Inovatif, Ushuluddin UIN Bandung Seleksi Dosen LB Lewat Fit and Proper Test

    Terobosan Inovatif, Ushuluddin UIN Bandung Seleksi Dosen LB Lewat Fit and Proper Test

    • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — BANDUNG — Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung, melakukan seleksi ketat untuk mencetak dosen profesional dan berkualitas, yaitu dengan menggelar Fit And Proper Test bagi 40 calon dosen Luar biasa, bertempat di Gedung T, Jumat, 19 Januari 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan I, Dr.Ecep Ismail, M.Ag. Wakil Dekan II, Dr.Muhlas, M.Hum, Kabag […]

  • Bandung Dorong Green Tourism dan Mobilitas Nol Emisi

    Bandung Dorong Green Tourism dan Mobilitas Nol Emisi

    • calendar_month Ming, 14 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat transformasi pariwisata berkelanjutan melalui pengembangan green tourism. Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri diskusi “Bandung Bersinar” di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, (13/12/2025). Farhan mengungkapkan, konsep pariwisata hijau merupakan inovasi yang untuk pertama kalinya secara serius diperkenalkan di Kota Bandung. Menurutnya, aktivitas wisata tidak […]

  • Peringkat I PTKIN UIN Bandung Berbagi Aktivitas Kunci Strategi Meningkatkan Pemeringkatan Webometrics

    Peringkat I PTKIN UIN Bandung Berbagi Aktivitas Kunci Strategi Meningkatkan Pemeringkatan Webometrics

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG  Sentra Publikasi Indonesia (SPI), UIN Sunan Gunung Djati Bandung menempati posisi terbaik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Tahun 2022. Data ini diperoleh berdasarkan pengukuran Webometrics Juli 2022. Adapun peringkat PTKIN terbaik versi Webometrics sepanjang tahun 2020-2022 di bawah ini: Sepanjang 2020-2022 yang menjadi kompetitor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam pengukuran rangking Webometrics […]

  • Tingginya Kekerasan Seksual Anak, Cucun Nilai Masalah Lingkungan Sosial Harus Diperhatikan

    Tingginya Kekerasan Seksual Anak, Cucun Nilai Masalah Lingkungan Sosial Harus Diperhatikan

    • calendar_month Jum, 27 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA KANAL31.COM — Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengecam keras tindakan kekerasan seksual pada anak dan balita yang belakangan sedang marak terjadi. Cucun meminta Pemerintah untuk mengambil langkah preventif agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang kembali.   “Saya prihatin dengan maraknya kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi belakangan ini. Hal tersebut menjadi alarm […]

  • Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Anak yang “gagal” di keluarga dan “tidak menjadi apa-apa,” ada di rumah mengurus orang tuanya sampai tua, seringkali lebih bermakna dan terasa manfaatnya ketimbang anak-anak yang “sukses” di kota-kota besar, jabatannya tinggi dan mentereng, jadi ini itu, tapi sulit pulang dan tak ada waktu sering menengok orang tuanya yang sudah report apalagi sakit-sakitan. […]

expand_less