Puasa dari Medsos, Mungkinkah?
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Sab, 21 Feb 2026
- comment 0 komentar

JAKARTA Kanal31.com — Dunia digital itu terasa intim. Feed saya beda dengan feed Anda. Algoritma seperti tahu selera, luka, bahkan ego kita. Ia beri sedikit validasi—cukup untuk bikin nagih. Scroll jadi refleks. Jempol kadang lebih disiplin daripada zikir.
Yang melelahkan sering bukan pekerjaan, tapi kebutuhan untuk “terlihat”: terlihat produktif, stabil, bahagia. Padahal hidup nyata tidak selalu estetik.
Ramadan datang kayak hard reset. Tiba-tiba kita dipaksa berhenti. Bukan cuma berhenti makan, tapi berhenti reaktif. Berhenti baper baca komentar. Berhenti overthinking lihat pencapaian orang. Ini bukan cuma puasa perut, ini puasa dopamin.
Imam al-Ghazālī di Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Asrār al-Ṣawm, bilang level puasa tertinggi itu saat mata, telinga, dan hati ikut puasa dari hal yang nggak perlu. Jadi bukan cuma nahan lapar, tapi nahan diri dari distraksi yang bikin jiwa keropos.
Ibn al-Qayyim di Madarij al-Sālikīn menyebut hati itu seperti bejana; kalau penuh selain Allah, ia tak punya ruang untuk cahaya. Pas banget kan…Kita sering merasa kosong, padahal bukan kurang konten, tapi justru karena terlalu penuh.
Jadi mungkin latihan paling relevan Ramadan ini sederhana: sebelum posting, tanya niat. Sebelum share, cek manfaat. Sebelum bereaksi, tarik napas. Kalau tidak menambah makna, ya sudah, biarkan lewat.
Tapi di situ latihan dimulai. Latihan nggak selalu responsif. Latihan merasa cukup. Latihan jadi manusia, bukan konten.
Puasa itu bukan sekadar tahan haus. Itu detox eksistensial. Biar kita inget: kita bukan branding pribadi. Bukan angka engagement. Bukan highlight reel.
Kita cuma hamba yang lagi belajar slow down, supaya nggak kehilangan diri sendiri di tengah dunia medsos yang terlalu berisik.
Mute notifikasi kecuali dari orang terkasih. Ini bukan berarti memutus dunia medsos. Tapi cuma cara kecil bilang ke diri sendiri: “Aku yang pegang kendali atas jiwa dan diriku, bukan konten”.
Ada pula jamaah yg curhat: “Gus, algoritma itu kok tahu banget galaunya kita yah. Lagi insecure, eh lewat postingan mantan lagi umrah Ramadan. Timingnya juara!”
Hahahahha 🤣🤣🤣🤣
Tabik,
Nadirsyah Hosen
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar