Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Retorika dari Bawah

Retorika dari Bawah

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bandung kanal31.com –Seorang teman memperlihatkan potongan video kepada saya yang menampilkan Cak Imin yang mengatakan, “kalau ada yang tak tumbuh dari bawah, pasti bukan PMII tapi HMI”. Bagi saya, pernyataan ini bukan sekadar seloroh politis. Ia mengandung bias, sindiran, dan pada saat yang sama mencerminkan gejala klasik politik identitas yang terus mengendap merayap dalam lanskap politik Indonesia.

Pernyataan tersebut, terlepas dari konteks kelakar, bermuatan dikotomis: ada yang “tumbuh dari bawah” dan ada yang seolah-olah “dibentuk dari atas”; ada yang organik, ada yang elitis. Dalam dialektika sosial-politik, dikotomi semacam ini kerap dijadikan bahan bakar politik identitas, strategi yang tidak hanya memisahkan “kami” dari “mereka”, tetapi juga menetapkan hirarki nilai dan legitimasi perjuangan.

Narasi Negasi

Ketika Cak Imin mengklaim bahwa “yang tumbuh dari bawah” adalah PMII, dan secara implisit menyebut HMI sebagai sebaliknya, ia sedang menggiring persepsi bahwa legitimasi perjuangan berasal dari akar rumput, dari rakyat kecil, dari bawah. Ini adalah narasi khas politik identitas, menggarisbawahi keberpihakan kepada kelompok tertentu sambil menegasikan kelompok lain.

Namun, apakah benar HMI tidak lahir dari bawah? Apakah PMII satu-satunya representasi gerakan akar rumput? Dalam sejarahnya, HMI didirikan pada masa revolusi fisik tahun 1947 oleh Lafran Pane di Yogyakarta, dengan semangat mempertahankan kemerdekaan dan mengakar pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. PMII sendiri lahir pada tahun 1960 sebagai bentuk keresahan kaum muda Nahdliyin terhadap elitisme dan orientasi politik dalam HMI, yang kala itu mulai dianggap terlalu condong pada kalangan modernis dan nasionalis kanan.

Saya meyakini, kedua organisasi ini lahir dari semangat yang sama: keberpihakan pada Islam dan Indonesia. Maka, dikotomi “tumbuh dari bawah atau tidak” menjadi sangat retoris, sekaligus menyederhanakan bahkan menyepelekan kerumitan sejarah perjuangan mahasiswa Islam yang plural.

Wadah Kader

PMII memiliki afiliasi ideologis dan kultural dengan Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan HMI lebih sering diasosiasikan dengan kelompok Islam modernis, meskipun secara struktural ia independen. Keduanya, dalam lanskap politik Indonesia, telah menjadi wadah kader-kader politik, birokrasi, dan intelektual.

Ketika afiliasi kultural digeser ke dalam ranah politik praktis, yang muncul bukan lagi semangat kebersamaan, melainkan dorongan untuk mempertegas batas antara “kita” dan “mereka”. Politik identitas dalam konteks ini tidak digunakan untuk membangun pemahaman kolektif tentang siapa kita, tetapi justru untuk menegaskan siapa yang berada di luar kelompok kita. Dalam kerangka tersebut, pernyataan Cak Imin mencerminkan pola pikir eksklusif yang berpotensi merusak harmoni kebangsaan yang tengah kita upayakan bersama.

Dari Kompetisi ke Kolaborasi?

Hubungan antara PMII dan HMI adalah kisah panjang antara persaingan ideologis dan keterpanggilan nasionalisme. Dalam beberapa fase sejarah Indonesia, dua organisasi ini saling berhadapan dalam medan wacana dan aksi politik. Namun di saat yang sama, mereka juga berdiri bersama dalam isu-isu strategis bangsa: demokrasi, HAM, antikorupsi, dan keadilan sosial.

Maka bagi saya, HMI juga PMII adalah dua sayap dari burung yang sama bangsa ini. Jika satu sayap terlampau menekan yang lain, bangsa ini akan limbung.

Oleh karena itu, alih-alih mempertajam batas antara “yang dari bawah” dan “yang bukan”, justru perlu ada kesadaran baru bahwa identitas bukan alat pembatas, tetapi jembatan perjumpaan. “All real living is meeting,” begitu kata filsuf Martin Buber. Dalam kondisi bangsa yang tengah diuji oleh polarisasi sosial dan politik, sikap inklusif dan dialogis antar organisasi mahasiswa Islam menjadi keniscayaan.

Penutup

Pernyataan yang dilontarkan Cak Imin harusnya kita jadikan cermin, bukan kompas! Sungguh, pernyataan itu menunjukkan kecenderungan para politisi untuk mereduksi organisasi ideologis menjadi instrumen kekuasaan. Padahal, sejarah PMII dan HMI adalah sejarah perjuangan dan idealisme, bukan sekadar loyalitas politik dan partisan.

Jika kita masih memercayai bahwa masa depan Indonesia terletak di tangan generasi muda, maka kita juga harus percaya bahwa setiap organisasi, entah PMII, HMI, IMM, KAMMI, GMKI, atau lainnya, memiliki ruang sah dalam dialektika kebangsaan. Yang perlu dihindari adalah menjebak mereka dalam kubu, dalam stigma, dalam dikotomi palsu yang justru membunuh ruh keislaman dan keindonesiaan yang terbuka.

Sebagaimana pohon yang sehat, akar gerakan mahasiswa tak mesti selalu terlihat, tapi ia terus bekerja, menguatkan batang, daun, dan buah bangsa ini. Maka, yang paling penting bukan dari mana ia tumbuh, tapi ke mana ia mengakar, dan untuk siapa ia berbuah. Allahu a’lam[]

Radea Juli A. Hambali (Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Kabupaten Bandung)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Program Akselerasi Kota Bandung Menuju World Class City

    5 Program Akselerasi Kota Bandung Menuju World Class City

    • calendar_month Rabu, 4 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 14Komentar

    KANAL31.COM Kota Bandung tengah bersiap untuk naik kelas menuju World Class City. Tak serta merta tanpa persiapan, Kota Bandung sudah menyiapkan beragam program untuk menunjang kenaikan kelas ini.   Dilansir dari laman Kota Bandung, inilah 5 program-program unggulan Kota Bandung untuk menuju World Class City. 1. Infrastruktur Digital IT  Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) […]

  • Gandeng BWI, MKS UIN Bandung Teguhkan Kiprah Akademik di Bidang Wakaf

    Gandeng BWI, MKS UIN Bandung Teguhkan Kiprah Akademik di Bidang Wakaf

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Program Studi Manajemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperkuat kiprah akademiknya di tingkat internasional melalui kolaborasi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) dalam 1st AWARE 2026 (Al-Awqaf Workshop for Research, Advancement and Excellence). Acara yang diselenggarakan pada Kamis (10/9/2026), Prodi MKS FEBI UIN Sunan […]

  • Perempuan ASN Harus Jadi Teladan di Keluarga dan Masyarakat

    Perempuan ASN Harus Jadi Teladan di Keluarga dan Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, Helmi Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya peran perempuan, khususnya istri aparatur sipil negara (ASN), dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan masyarakat yang berakhlak. Hal ini disampaikannya saat memberikan pembinaan kepada Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama se-Kalimantan Timur. “Jadilah istri sebagai penyejuk hati suami. Jadilah istri yang menjadi […]

  • Jelang Malam Tahun Baru 2025, Polsek Pameungpeuk dan Koramil 2405 Arjasari Berhasil Amankan Ratusan Botol Miras

    Jelang Malam Tahun Baru 2025, Polsek Pameungpeuk dan Koramil 2405 Arjasari Berhasil Amankan Ratusan Botol Miras

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM – Polsek Pemeungpeuk Polresta Bandung Polda Jabar bersama Koramil 2405 Arjasari dalam patroli KRYD berhasil mengamankan ratusan botol minuman keras (miras) yang rencananya akan dipakai ajang pesta di malam pergantian tahun. Polisi mengamankan miras tersebut saat dilaksanakan operasi KRYD yang berfokus pada penyakit masyarakat seperti pesta miras. Dalam giat Ops KRYD tersebut anggota […]

  • Inilah Makna Filosofis Logo Baru RSUD Welas Asih

    Inilah Makna Filosofis Logo Baru RSUD Welas Asih

    • calendar_month Rabu, 9 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memaparkan makna filosofis dari logo baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Welas Asih. Logo yang didominasi siluet kujang berwarna biru itu sarat akan simbolisme budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. “Ini gambar kujang dengan tiga lubang di punggungnya yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan,” ujar KDM sapaan akrab Gubernur, […]

  • Kemenag, BAZNAS, dan BWI Ajak Warga Olahraga Sambil Beramal dalam Wakaf Zakat Fun Run 2024

    Kemenag, BAZNAS, dan BWI Ajak Warga Olahraga Sambil Beramal dalam Wakaf Zakat Fun Run 2024

    • calendar_month Sabtu, 23 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM JAKARTA –Kementerian Agama (Kemenag), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) akan menggelar Wakaf Zakat Fun Run 2024 pada 22 Desember 2024 di Jakarta. Dengan tema “Sehat Bersama, Wakaf dan Zakat untuk Sesama”, acara ini bertujuan mengajak masyarakat berolahraga sekaligus meningkatkan literasi tentang wakaf dan zakat. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam […]

expand_less