Kamis, 9 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » BEWARA » 5 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang Diakui Unesco

5 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang Diakui Unesco

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sen, 5 Sep 2022
  • comment 0 komentar

KANAL.31.COM-Beragam warisan budaya tak benda Indonesia telah berhasil diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. UNESCO sendiri mensponsori berbagai proyek mulai dari proyek sejarah daerah, program baca-tulis, hingga kerja sama warisan budaya. Nah, berikut, Viva rangkumkan dari lansiran berbagai sumber mengenai deretan warisan budaya tak benda yang asli berasal dari Indonesia telah diakui UNESCO.

1. Pantun Pantun ucapan Selamat Idul Fitri. Pantun secara resmi diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang tak hanya dimiliki Indonesia saja, tetapi juga Malaysia pada tahun 2020. Pantun sendiri merupakan bentuk syair Melayu yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan emosi yang sulit. Pantun memiliki skema a-b-a-b yang biasa dibacakan saat upacara pernikahan, ritual adat, dan upacara resmi. Pantun menawarkan cara berekspresi secara langsung dengan sopan. 2. Gamelan

Gamelan merupakan warisan budaya tak benda Indonesia yang sejak tahun 2021 lalu resmi diakui oleh UNESCO. Gamelan itu sendiri merupakan orkestra tradisional Indonesia yang terdiri dari instrumen perkusi.

3. Noken
Noken merupakan tas anyaman yang berasal dari kerajinan tangan masyarakat Papua & Papua Barat yang multifungsi. Noken sendiri telah diakui UNESCO sebagai warisan tak benda Indonesia sejak 2012 silam. Noken biasanya digunakan untuk membawa hasil perkebunan, kayu bakar, hingga gendongan bayi. Noken juga biasa digunakan saat upacara tradisional sebagai persembahan perdamaian.

4. Tari Tradisional Bali

Warisan budaya Indonesia tak benda yang telah diakui oleh UNESCO adalah tari tradisional Bali yang terdiri atas 3 genre. Genre ketiga ini meliputi sakral, semisakral, dan untuk hiburan. Tari tradisional Bali ini tidak hanya dilihat dari bentuk tarian saja, tetapi juga dari aksesoris bermotif cerah yang dipakai para penari serta nilai tarian itu sendiri yang terinspirasi dari alam, adat, dan nilai-nilai agama tertentu. Tari tradisional Bali telah diakui oleh UNESCO sejak 2015 lalu.

5. Batik

Kain Batik Indonesia memiliki beragam jenis ciri mulai dari corak hingga warna yang tersebar di setiap daerah. Batik sendiri sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak 2009 silam.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Tips dan Trik Publikasi Scopus Ala Adhan Efendi

    Inilah Tips dan Trik Publikasi Scopus Ala Adhan Efendi

    • calendar_month Sen, 30 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Mengakhiri bulan Juni 2025 dengan semangat akademik yang membara, Rumah Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kelas Menulis dan Workshop Academic Writing yang terbuka untuk umum tanpa biaya. Dengan menghadirkan narasumber utama Adhan Efendi, seorang pakar publikasi ilmiah sekaligus kandidat doktor di National Chin-Yi University of Technology, Taiwan. Kegiatan yang dilaksanakan […]

  • Ujang Komarudin : Parpol Harus Rela Jika Penjabat Gubernur DKI Orangnya Presiden

    Ujang Komarudin : Parpol Harus Rela Jika Penjabat Gubernur DKI Orangnya Presiden

    • calendar_month Sel, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Ahli politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin mengatakan partai politik (parpol) harus rela, berlapang dada menerima keputusan jika nantinya, Presiden Jokowi memilih Direktur Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar sebagai Penjabat Gubernur DKI Jakarta. “Bagaimana dengan parpol, saya melihatnya harus rela bahwa Pj Gubernur adalah orangnya Presiden Jokowi karena memang penentuannya dilakukan […]

  • Raker FAH 2026, Diawali Momen Spesial “The Humanis Awards”

    Raker FAH 2026, Diawali Momen Spesial “The Humanis Awards”

    • calendar_month Sel, 20 Jan 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum secara resmi membuka Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Koordinasi (Rakor) tahun 2026 di Aula FAH, Selasa (20/01/2026). Acara ini diawali dengan momen spesial bertajuk “Humanis Award”, sebuah bentuk apresiasi nyata terhadap prestasi mahasiswa. Dalam ajang “Humanis […]

  • Profesor Tanpa Pikiran

    Profesor Tanpa Pikiran

    • calendar_month Sab, 2 Mei 2026
    • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
    • 0Komentar

    MALANG kanal31.com — Kita sedang menyaksikan lahirnya satu jenis baru dalam dunia akademik, sosok yang tampak terhormat di atas kertas tetapi rapuh di dalam ruang pikirnya. Ia memiliki gelar tertinggi, daftar publikasi yang panjang, indeks sitasi yang mengesankan, dan posisi yang mapan di institusi. Semua syarat formal terpenuhi. Semua indikator administratif dilampaui. Tetapi ada satu […]

  • Baik-Buruk Indonesia

    Baik-Buruk Indonesia

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Saudaraku, di negeri yang lahir dari laut dan letusan gunung, angin membawa doa dari seribu bahasa, dan hujan jatuh seperti ingatan nenek moyang yang tak pernah selesai diceritakan. Indonesia adalah sawah yang memantulkan langit, jalan kecil dengan warung kopi yang tetap hidup meski listrik padam dan dompet paspasan. Ia rumah bagi tangan-tangan […]

  • Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Anak yang “gagal” di keluarga dan “tidak menjadi apa-apa,” ada di rumah mengurus orang tuanya sampai tua, seringkali lebih bermakna dan terasa manfaatnya ketimbang anak-anak yang “sukses” di kota-kota besar, jabatannya tinggi dan mentereng, jadi ini itu, tapi sulit pulang dan tak ada waktu sering menengok orang tuanya yang sudah report apalagi sakit-sakitan. […]

expand_less