Breaking News:
Beranda » BEWARA » Prof. Dudang Minta Maba FEBI, Asah Nalar Kritis dan Jawab Tantangan Kesenjangan Ekonomi Umat

Prof. Dudang Minta Maba FEBI, Asah Nalar Kritis dan Jawab Tantangan Kesenjangan Ekonomi Umat

  • account_circle Sungkawa Abdisunda
  • calendar_month 23 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, kanal31.com— Suasana penuh energi dan gemuruh sorak-sorai membahana saat digelar Penenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bandung, Kamis (27/08/2026). Mahasiswa dari setiap program studi menunjukkan semangat luar biasa ketika jumlah amunisi muda mereka diperkenalkan satu per satu di hadapan jajaran pimpinan fakultas.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag menyampaikan pesan tegas bahwa menjadi mahasiswa merupakan pembuka masa keemasan kedua dalam siklus kehidupan manusia setelah masa kanak-kanak. Pada fase ini, nalar kritis dan keberanian berpikir harus dioptimalkan untuk menjawab berbagai persoalan besar, khususnya kesenjangan ekonomi yang masih membelenggu umat.

Ia menyoroti fase transisi kehidupan manusia. Masa keemasan pertama terjadi pada usia 0 hingga 5 tahun, saat anak-anak memiliki kebebasan bertanya secara kritis tanpa batasan. Namun, kebebasan itu kerap meredup selama masa sekolah formal karena siswa lebih banyak dituntut untuk menjadi pendengar.

“Saat masuk fase mahasiswa, Anda kembali menemukan masa keemasan itu. Di sini, Anda dituntut memaksimalkan nalar pikiran sebagai senjata utama. Jangan sampai langkah Anda di FEBI UIN Bandung kehilangan arah hanya karena tidak menentukan tujuan atau ‘oleh-oleh’ yang ingin dibawa pulang sejak awal,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa masa perkuliahan berjalan sangat cepat. Mahasiswa hari ini harus menyadari peran vitalnya sebagai agen perubahan (agent of change) sekaligus fasilitator aspirasi masyarakat.

Kehadiran FEBI, lanjut Prof. Dudang, tidak sekadar mengajarkan transaksi atau keuangan semata, tetapi juga membawa misi besar untuk menegakkan keadilan ekonomi dan menjawab tantangan kesenjangan sosial.

Saat ini, masyarakat mayoritas masih menghadapi ketimpangan akses terhadap ilmu pengetahuan dan sumber daya ekonomi. Ketimpangan ini membuat sebagian besar potensi ekonomi nasional belum terkelola secara merata.

Solusi Nyata demi Kemaslahatan Umat

Prof, Dudang berpesan kepada mahasiswa baru untuk menentukan target dan luaran (oleh-oleh) yang ingin dicapai sejak hari pertama melangkah di kampus, bukan saat menjelang kelulusan. Tidak lupa memaksimalkan nalar kritis, dengan memanfaatkan kebebasan akademik untuk mengasah pemikiran kritis dalam menyelesaikan masalah. Mahasiswa harus bertindak nyata sebagai penyambung lidah masyarakat dan agen perubahan sosial.

Menurut Prof. Dudang, ekonomi bukan sebatas mencari keuntungan, melainkan memperjuangkan keadilan distribusi sumber daya di tingkat nasional maupun global. Dengan potensi kekayaan alam Indonesia yang melimpah, mahasiswa FEBI dituntut untuk tidak hanya meratapi ketimpangan yang ada, tetapi hadir membawa solusi nyata demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Wakil Dekan 3 FEBI, Dr. H. Kadar Nurjaman, MM mengonfirmasi bahwa jumlah mahasiswa baru FEBI sebanyak 1.044. Mereka tersebar di enam program studi unggulan: Managemen 293, Manajemen Keuangan Syariah 270, Ekonomi Syariah 130, Akuntansi Syariah 135, Manajemen Industri Halal 128, dan Bisnis Digital 90.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan tugas pokok dan fungsi jajaran dekanat (Wakil Dekan 1, 2, 3). Mahasiswa baru kemudian diajak mengenali lebih dekat jajaran pimpinan jurusan (Kajur/Sekjur), laboratorium, tenaga kependidikan, serta fasilitas penunjang seperti Galeri Investasi Syariah dan Inkubator Bisnis.

Suasana semakin dinamis saat jajaran Organisasi Mahasiswa Intra (Ormawa)—meliputi DEMA, SEMA, dan HMJ— memperkenalkan berbagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa.

Menurut Dr. Kadar, ada hal unik dalam penyambutan tahun ini. Mahasiswa baru tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga dilibatkan langsung dalam menguatkan citra fakultas di ruang publik digital.

“Untuk penguatan promosi FEBI, secara serempak mahasiswa baru dipandu untuk membuat konten seputar FEBI. Dan menutup rangkaian acara, kita lakukan Pawai Ta’aruf,” terang Dr. Kadar Nurjaman.

Pawai Ta’aruf menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian kegiatan, menciptakan momen keakraban dan menyatukan semangat 1.044 mahasiswa baru dalam memulai perjalanan akademik mereka di FEBI.(nas)

 

  • Penulis: Sungkawa Abdisunda

Rekomendasi Untuk Anda

  • 9 Strategi Atasi Kesulitan dalam Penulisan Skripsi

    9 Strategi Atasi Kesulitan dalam Penulisan Skripsi

    • calendar_month Rabu, 11 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Kami telah menyusun tahapan penulisan skripsi sejak proposal. Dari tahapan itu, kami menjumpai beberapa kesulitan yang dialami mahasiswa. Pertama, kesulitan dalam menyusun permasalahan utama penelitian. Solusinya adalah siapkan jawaban sementara untuk pertanyaan utama penelitian yang diajukan, lalu pertimbangkan apakah jawaban tersebut penting sebagai alasan mendasar dilakukannya penelitian. Kedua, kesulitan dalam menyusun kerangka berpikir. Solusinya adalah […]

  • Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    • calendar_month Rabu, 20 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM— Hancur sudah harapan pegawai Honorer Kategori 2 (HK2) UIN SGD Bandung untuk meraih status pegawai negeri sipil (PNS). Sebagian harus puas menjadi pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), sebagian lagi gagal mendaftar P3K karena hanya lulusan SLTA, dan sebagian lagi nasibnya kadaluarsa karena ‘dimakan’ usia. Prahara yang menimpa HK2 ini tidak datang dengan serta-merta, […]

  • Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Pagi ini saya kayuh sepeda ke kawasan Batununggal, sekadar olahraga kecil. Di mulut jalan tampak berjejer kios-kios makanan sarapan. Ada nasi uduk, bubur, kupat Singaparna dan lain-lain. Saya berhenti di gerobak bu Wilda. Perempuan jelang 40 tahun ini jual serabi, gorengan, dan kopi panas sachetan. Lima serabi dan lima gorengan total Rp 18.000 […]

  • Teliti Soal Pengolahan Limbah Cair Industri Sawit, Mahasiswa UGM Raih Dana Riset dari Jepang

    Teliti Soal Pengolahan Limbah Cair Industri Sawit, Mahasiswa UGM Raih Dana Riset dari Jepang

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Yogyakarta) — Mahasiswa Doktoral Ilmu Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada Tia Erfianti, berhasil meraih penghargaan bergengsi Kurita Grant Japan 2024 usai melakukan riset tentang pengolahan limbah, khususnya limbah cair dari industri kelapa sawit, atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dengan menggunakan mikroalga. Seperti diketahui,  Kurita Grant, atau Kurita Water and Environment Foundation (KWEF) Grant, […]

  • Nikmati Kopi Romantis dengan Konsep Baru dan Harga Bersahabat

    Nikmati Kopi Romantis dengan Konsep Baru dan Harga Bersahabat

    • calendar_month Kamis, 30 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG KANAL31.COM — Kota Bandung kembali memiliki tempat ngopi baru dengan konsep unik, yaitu Kopi Romantis. Berdiri sejak 1 November 2024, Kopi Romantis berlokasi di Jalan Sabang No. 21A, Cihapit. Berbeda dengan kafe pada umumnya, Kopi Romantis mengusung konsep raw unfinish, yakni desain sederhana dengan budget minimalis, namun tetap nyaman dan homey. Pemilik Kopi Romantis, […]

  • Indonesian, Amerika dan Psikologi Supremasi Iran

    Indonesian, Amerika dan Psikologi Supremasi Iran

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Tahun 1980-an, Indonesia sedang dalam butuh-butuhnya bantuan asing (IMF, IGGI) dengan Open Door Policy-nya Soeharto yang membuat ketergantungan pada Barat hingga kini dan membuat Indonesia tak punya kemandirian dan harga diri dalam soal ekonomi pembangunan. Paradigmanya yang diwariskan Soeharto adalah hutang.   Pada tahun yang sama, presiden Iran, Ali Khamenei sedang menegaskan […]

expand_less