Sabtu, 18 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Mengajarkan Sabar lewat Coca Cola dan Mentos

Mengajarkan Sabar lewat Coca Cola dan Mentos

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
  • comment 0 komentar

GARUT KANAL31.COM — Tahun ajaran baru sudah memasuki bulan kedua. Gesekan pertemanan mulai terasa. Meski sudah dibekali materi anti bully, tapi bibit-bibitnya masih ditemui. Sesuatu yang wajar, tak mudah mengubah budaya yg sudah terbentuk dan terbawa dari pengalaman sebelumnya.

Di akhir pekan seperti biasa saya menyampaikan tausiah bada magrib. Saya meminta dua orang santri untuk membantu sebuah simulasi.

Santri pertama saya beri sebotol coca cola, santri kedua saya beri sebotol air mineral. Setelah mereka membuka botolnya, saya beri mereka masing-masing permen mentos untuk dimasukkan ke botolnya.

Santri-santri lain yang menyaksikan, langsung berkerubung ingin melihat apa yang terjadi.

Dari botol coca cola terlihat busa membuncah seperti lava yang keluar dari gunung merapi. Sementara botol berisi air mineral tidak ada reaksi apa-apa. Santui saja.

Dari simulasi ini, saya melempar pertanyaan, “Apa yang beda dari dua botol ini?”

“Reaksinya…” kata beberapa santri

Lalu saya susul dengan pertanyaan, “Mengapa reaksinya berbeda?”

“Karena yang satu air bening, yang satu air coklat”

Menanggapi itu saya kembali mengeluarkan sebotol air, kini air sprite. Lalu saya minta seorang santri untuk memasukkan mentos. Alhasil reaksinya sama dengan botol coca cola.

“Sprite ini jernih juga spt air mineral tapi mengapa reaksinya seperti coca cola?”

“Karena ada soda dan gula” kata beberapa santri.

Yup, yang membedakan reaksi itu bukan botolnya, bukan warnanya. Tapi kandungan dalam air itu.

Lalu saya bertanya lagi, yang menyebabkan reaksi membludak keluar itu apakah mentosnya atau airnya?

Sebagian santri ada yang berpendapat mentosnya, ada juga yang berpendapat airnya.

Kepada yang mengatakan bahwa mentos adalah penyebabnya, saya bertanya mengapa air mineral tetap santuy saja? Lalu mereka sadar bahwa masalahnya bukan di mentos tapi di airnya.

Sampai sana para santri sudah mulai bisa menebak ke mana saya bicara.

Jika mentos itu adalah masalah yang kita hadapi sehari-hari, kira-kira apakah kita bereaksi seperti air mineral atau air bersoda? Apakah kita tetap tenang atau langsung nyemprot?

Apa yang keluar dari mulut kita, apa reaksi kita terhadap masalah, ditentukan “air” jenis apa yang ada dalam pikiran kita. Teko berisi air comberan akan mengeluarkan air comberan. Botol berisi air sagar akan mengeluarkan air menyegarkan.

Selanjutnya saya meminta seorang santri untuk maju lagi. Saya berikan padanya coca cola kaleng, dan memintanya untuk mengguncang-guncangkannya.

“Jika kita buka kaleng ini, pasti airnya akan menyenbur. Bagaimana kira-kira agar tidak menyembur?”

Lalu seorang santri maju mengajukan solusi. Santri ini menjentik-jentik kaleng. Memutar-mutarnya. Mendiamkan kaleng itu sejenak. Setelah beberapa menit baru dia membukanya. Betul saja coca cola itu tidak menyembur. Saat ditanya mengapa tidak menyembur, dia menjawab:

“Saat air soda ini dikocok, maka akan menghasilkan gelembung-gelembung yang menempel di dinding kaleng. Karena itu saya ketuk-ketuk dinding kalengnya agar gelembungnya pecah.”

Penjelasan itu hal baru untuk saya. Tapi pada intinya agar air tak menyembur, kita harus diamkan dan tenangkan dulu kalengnya.

Jika kita masih merasa diri kita air soda, maka saat mendapat guncangan, jangan langsung buka mulut kita. Karena kemungkinan besar yang akan keluar adalah semburan soda berupa kata-kata mengumpat atau menyerang. Lebih baik dinginkan dulu.

Di bagian akhir saya membuang air-air soda tadi dan mengajak santri-santri untuk mengisi botol dalam pikirannya dengan air yang jernih. Agar saat diguncang, atau dimasukkan mentos, tetap santui dan tenang. Itulah sikap Hilm, salah satu sifat Rasulullah Saw. Tetap santui meski dilempar mentos atau diguncang-guncang.

Sesi pun ditutup dengan membaca dan menghapal sebuah mahfuzhat “Man hasuna lisaanuhu, katsuro shodiiquhu” yang artinya, “Yang baik lisannya, maka banyak temannya”.

Irfan Amalee, Peacesantren Welas Asih (Komplek Griya Sanding Indah) Desa Sukarasa, Samarang Kabupaten Garut

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peneliti LIPI: Pemilu 2024 Harus Beri Pembelajaran Positif Bagi Masyarakat

    Peneliti LIPI: Pemilu 2024 Harus Beri Pembelajaran Positif Bagi Masyarakat

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengingatkan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bukan sekadar menang atau kalahnya pasangan calon dan partai politik. Namun, Pemilu 2024 harus lebih menekankan pembelajaran positif bagi masyarakat. “Kita sudah punya pengalaman lima kali pemilu, namun yang belum kita belajar adalah bagaimana agar pemilu serentak […]

  • Selamat! UIN Jakarta Tambah Satu Guru Besar Ekonomi Islam

    Selamat! UIN Jakarta Tambah Satu Guru Besar Ekonomi Islam

    • calendar_month Kam, 18 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta kembali menambah guru besarnya setelah dosennya, Dr. M. Arief Mufraini M.Si menjadi profesor bidang Ilmu Ekonomi Islam. Kenaikan jabatan akademik ini dituangkan dalam SK Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbu Ristek) Nomor 51119 Tahun 2002 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen. SK yang ditandatangani Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim […]

  • Inilah 7 PTKIN Masuk 100 Top Kampus Terbaik Versi Webometrics 2026

    Inilah 7 PTKIN Masuk 100 Top Kampus Terbaik Versi Webometrics 2026

    • calendar_month Sen, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Webometrics pada awal 2026 merilis peringkat nasional perguruan tinggi. Ada 3.695 Perguruan Tinggi yang masuk di data pemeringkatan Webometrics. Dari jumlah itu, sebanyak tujuh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang masuk Top 100 pemeringkatan nasional. “PTKIN terus berkembang dan makin kompetitif, bahkan dibanding perguruan tinggi umum. Berdasar rilis terbaru Webometrics ada […]

  • Dilema ‘Sah Agama’ vs ‘Sah Negara’: Dr. Harry Yuniardi Tawarkan Rekonstruksi Hukum Perkawinan

    Dilema ‘Sah Agama’ vs ‘Sah Negara’: Dr. Harry Yuniardi Tawarkan Rekonstruksi Hukum Perkawinan

    • calendar_month Rab, 25 Feb 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda membayangkan sebuah kondisi di mana sepasang suami istri dianggap bercerai secara agama, namun di mata negara mereka masih terikat pernikahan? Atau, seorang anak diakui sah oleh hukum negara, namun secara fikih nasabnya menyisakan tanda tanya?   BANDUNG, kanal31.com – Praktik perkawinan dan perceraian dalam masyarakat Muslim modern kerap terjebak dalam ketegangan antara kepatuhan […]

  • Nadiem Makarim, Tumbal Politik Kekuasaan? 

    Nadiem Makarim, Tumbal Politik Kekuasaan? 

    • calendar_month Sab, 16 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • 0Komentar

    GARUT kanal31.com — Nama Nadiem Makarim belakangan ini kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena inovasi pendidikan. Bukan karena Merdeka Belajar. Bukan karena transformasi digital sekolah. Tetapi karena pusaran isu hukum, tekanan opini, dan berbagai narasi yang terus menggiring publik untuk melihatnya sebagai pihak yang harus dipersalahkan. 🔥⚖️   Dan di titik itulah, akal sehat rakyat mulai […]

  • Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    • calendar_month Sel, 4 Okt 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Menyambut Maulid Nabi Muhammad, aplikasi Islami KESAN resmi meluncurkan fitur Maulid pada Senin (03/10/2022). Dengan hadirnya fitur tersebut, umat Islam tidak hanya dapat dengan mudah membaca ragam maulid, tetapi juga mendengarkan lantunannya. CEO Aplikasi KESAN Hamdan Hamedan menjelaskan bahwa tingginya animo membaca maulid menjadi alasan dikembangkannya fitur ini. Terlebih lagi, umat Islam di Indonesia […]

expand_less